Sejarah Dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum
Oleh
:
Nama : Kadek Arya Teddy
Sujaya
Nim :1612311009
Program Studi : D3 Perpustakaan
Nim :1612311009
Program Studi : D3 Perpustakaan
ABSTRAK
Klasifikasi berasal dari kata classification, dari
kata kerja to classify, yang berarti
menggolongkan dan menempatkan benda-benda yang sama di suatu tempat. Yang
dimaksud dengan klasifikasi adalah penggolongan atau pengelompokkan buku
berdasarkan subjek atau isi buku yang bersangkutan. Tujuan dari klasifikasi
ialah agar semua bahan pustaka itu dapat didayagunakan semaksimal mungkin oleh
pemakai.
Secara
rinci, tujuan mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mempermudah murid-murid di
dalam mencari buku-buku yang sedang diperlukan.
2. Untuk mempermudah guru pustakawan di
dalam mencari buku-buku yang di pesan oleh murid-murid.
3. Untuk mempermudah guru pustakawan di
dalam mengembalikan buku-buku pada tempatnya.
4. Mempermudah guru pustakawan
mengetahui perimbangan bahan pustaka.
5. Untuk mempermudah guru pustakawan di
dalam menyusun suatu daftar bahan-bahan pustaka yang berdasarkan sistem
klasifikasi.
Apabila kita pergi ke
sebuah perpustakaan, kemudian kita mencari buku yang kita perlukan pada sebuah
sistem katalog komputer yang tersedia, setelah memasukkan judul buku dan
pengarangnya, maka kita akan menemukan kode buku yang kita inginkan, dengan
kode tersebut memudahkan kita mencari dan dapat menemukan buku yang kita
butuhkan dengan cepat. Kode yang muncul setelah pencarian tersebut adalah nomor
klasifikasi buku yang digunakan perpustakaan untuk menyusun koleksi buku yang
ada agar buku-buku yang sejenis dapat berkumpul berdekatan, misalnya dari
berdasarkan bidang ilmunya.
Perpustakaan mempunyai format penggolongan bagian dari bidang
perpustakaan dan ilmu pengetahuan informasi. Semua itu berjalan bersamaan
dengan perpustakaan (deskriptif) kataloging dan penggolongan, kadang-kadang
perpustakaan mengelompokkan bersama-sama sebagai jasa teknis. Profesional
perpustakaan yang sedang dalam melibatkan proses kataloging dan menggolongkan
bahan-bahan, bahan-bahan perpustakaan disebut sebagai suatu pendaftar buku-buku
atau katalog pustakawan.
Selain itu, sistem
pengklasifikasian tersebut akan memudahkan dalam pencarian ataupun pengembalian
buku. Ada beberapa macam sistem pengklasifikasian buku yang digunakan di
berbagai perpustakaan. Namun, sistem yang paling banyak digunakan oleh
perpustakaan-perpustakaan adalah sistem klasifikasi Dewey Decimal
Classification (DDC). DDC digunakan oleh perpustakaan di lebih dari 130 negara.
Hingga saat ini, DDC telah digunakan lebih dari satu abad. Hal ini tentu tidak
terlepas dari sistem/cara kerja DDC yang dipandang paling memadai dalam
mengakomodasi perkembangan dunia perpustakaan dan perkembangan ilmu pengetahuan
secara umum. Sistem pengklasifikasian buku.
Suatu klasifikasi
perpustakaan adalah suatu sistem dari persandian dalam mengorganisir bahan-bahan perpustakaan, bahan-bahan perpustakaan
itu seperti (buku, serial, audiovisual bahan-bahan pustaka, file komputer,
memetakan, naskah, realita, dan lain-lain). Dan suatu nomor dari jumlah
panggilan untuk informasi sumber daya itu yang serupa ke sistem klasifikasi
menggunakan sistem klasifikasi. Perpustakaan yang menggolongkan kesatuan yang
serupa bersama-sama secara khas diatur berdasarkan struktur brown secara
hirarkis (mengumpamakan sistem yang none-faceted).
LATAR BELAKANG
Banyak yang mengenal perpustakaan hanya sebagai suatu
tempat, dan yang terpikirkan di perpustakaan adalah tempat untuk belajar dan
ada banyak buku. Namun, jika didalami lagi, perpustakaan itu bukan hanya
merupakan suatu tempat, namun juga memiliki ilmu yang luas. Perpustakaan juga
banyak memiliki fiungsi dan peranan, khususnya bagi pelajar.
Fungsi dan peranan
perpustakaan pada saat ini menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
kegiatan dan program yang ada dalam suatu lembaga atau institusi tertentu.
Terlebih diperguruan tinggi, perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari proses
belajar dan mengajar mahasiswa dan dosen.
Pada zaman
era modern seperti saat sekarang ini, seorang pustakawan sering kali mengalami
beberapa kendala, seperti pembuatan
kartu catalog yang dari tulisan tangan ke mesin ketik, kemudian beralih lagi ke
computer seperti saat sekarang ini.
Dalam pemilahan bahan
perpustakaan (klasifikasi) merupakan kunci mendasar bagi proses-proses lainnya
untuk bisa berjalan secara sistematis. Pemilahan bahan pustaka bertujuan untuk
membagi bahan-bahan perpustakaan yang ada menjadi berbagai kelompok sesuai
dengan tema, judul, penulis, dan parameter lainnya yang akan memudahkan
penempatan bahan pustaka tersebut dalam rak buku, serta yang lebih penting lagi
adalah untuk memudahkan proses pemanggilan kembali (recalling) ketika buku-buku
tersebut dibutuhkan. Didunia perpustakaan internasional, dikenal berbagai macam
klasifikasi, dari yang tradisional sampai yang paling modern seperti saat
sekarang ini. Ada librariy Off Congress
Classification, Dwey Decimal Classification, Universal
Decimal Classificaton, dan lain sebagainya.
PEMBAHASAN
Sejarah Klasifikasi
DDC dibuat oleh Melvil Dewey berdasarkan
kajiannya terhadap puluhan buku, pamphlet dan kunjungannya ke berbagai
perpustakaan. Maka DDC dapat dikatakan sebagai klasifikasi pengetahuan untuk
keperluan menyusun buku di perpustakaan. Sebelum Dewey menemukan sistemnya,
sudah ada beberapa sistem pengklasifikasian buku. Misalnya, Charles A. Cutter
membuat sistem klasifikasi berdasarkan topik, dan Nathaniel Shurtleff melakukan
penomoran menggunakan sistem desimal. Inovasi yang dilakukan oleh Dewey adalah
menggabungkan sistem pengklasifikasian berdasarkan topik dan penomoran dengan
sistem desimal. Namun, nomor tidak mengacu pada rak, melainkan pada bidang
ilmu. Keadaan seperti ini mendorong Dewey untuk menemukan suatu sistem
pengklasifikasian buku yang baru.
Klasifikasi Desimal Dewey (Dewey Decimal
Classification(DDC), juga disebut Sistem Desimal Dewey) adalah sebuah sistem
klasifikasi perpustakaan yang diciptakan oleh Melvil Dewey (1851–1931) pada
tahun 1876, dan sejak saat itu telah banyak dimodifikasi dan dikembangkan dalam
dua puluh dua kali revisi yang telah terjadi hingga tahun 2004. Pada tahun 1876
terbitlah sebuah pamphlet yang berjudul A Classification and subject index for
cataloging the books and phamflet of a library. Penerbitan pamphlet tersebut
menandai terbitnya sistem Dewey Decimal Classification, lebih dikenal dengan
singkatan DDC.
Kini DDC menginjak edisi ke 22 ( terbit
pada 2003), merupakan bagan klasifikasi yang banyak dipakai di dunia. Di
Indonesia, DDC menduduki peringkat pertama sebagai bagan kasifikasi yang paling
banyak digunakan, menyusul kemudian Universal Decimal Classification atau yang sering
disebut dengan UDC. Edisi pertama terbit pada tahun 1876 setebal 44 halaman,
diterbitkan dengan nama pengarang anonim,berisi kata pendahuluan, bagan untuk
10 kelas utama yang dibagi secara desimal menjadi 1000 kategori bernomor
000-999, serta indeks subyek menurut abjad. Pembagian 10 kelas utama merupakan
perbaikan dari sistem klasifikasi yang di kembangkan oleh W,T.Harris pada tahun
1870. Harris sendiri mendasarkan bagan klasifikasinya atas klasifikasi
pengetahuan menurut ilmuwan francis bacon tetapi tata urutannya berbeda. Bacon
membagi pengetahuan menjadi 3 kategori dasar yaitu sejarah,sastra [poesy],dan
filsafat . ketiga kategori ini sesuai dengan pembagian pikiran manusia yaitu
memori [ingatan] ,imaginasi ,dan nalar.
Dalam bagan klasifikasi barunya, Dewey
memperkenalkan dua ciri baru yaitu lokasi relatif dan indeks relatif. Sebelum
dikembangkan DDC, buku perpustakaan di beri nomor sesuai dengan lokasi
masing-masing di rak. Misalnya XV1-15 artinya buku di rak XV1dengan nomor urut
15. dengan kata lain penentuan buku di rak menggunakan lokasi tetap sehingga
buku tidak dapat diubah-ubah letaknya. Halangan lokasi tetap ialah buku dalam
subjek sama mungkin letaknya terpencar karena kedatangannya di perpustakaan
tidak sama. Sistem Dewey memberi nomor buku menurut subjeknya. Dengan demikian
buku disusun menurut subjeknya tanpa memperhatikan di mana buku tersebut
diletakannya di rak. Bila buku baru datang maka buku tersebut dapat disisipkan
di antara buku lama selama buku baru tersebut berkaitan subjeknya dengan buku
lain Sistem penempatan semacam ini yang memungkinkan perubahan letak selama
buku tetap berkaitan subjeknya disebut lokasi relatif. Lokasi ini memungkinkan
interkalasi tanpa batas, buku dapat dipindah-pindahkan tanpa harus mengubah
nomor panggil. Dalam indeks relatif, Dewey menyatukan dalam satu lokasi
berbagai subjek yang berkaitan atau sebuah subjek dibahas dalam beberapa bidang
studi.
Difinsi Klasifikasi
Secara harfiah arti klasifikasi adalah
penggolongan atau pengelompokkan. Ada beberapa pengertian mengenai klasifikasi,
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia klasifikasi adalah penyusunan bersistem
dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan.
Harrolds Librarians Glossary menyebutkan bahwa klasifikasi adalah pengelompokkan
benda secara logis menurut ciri-ciri kesamaannya. Menurut Sulistyo Basuki,
Klasifikasi adalah proses pengelompokkan/pengumpulan benda atau entitas yang
sama, serta memisahkan benda atas entitas yang tidak sama.
Jenis-Jenis
Klasifikasi
Untuk
membantu pemakai perpustakaan dalam melakukan penelusuran bahan pustaka
yang dibutuhkan secara mudah dan cepat, diperlukan suatu sistem klasifikasi.
Sistem klasifikasi dalam dunia perpustakaan adalah :
1. Klasifikasi Artifisial
Sistem
ini adalah mengelompokan bahan pustaka berdasarkan ciri atau sifat-sifat
lainnya, misal pengelompokan menurut pengarang, atau berdasarkan ciri fisiknya,
misalnya ukuran, warna sampul, dan sebagainya.
2.Klasifikasi Utility
Pengelompokan
bahan pustaka dibedakan berdasarkan kegunaan dan jenisnya. Misal, buku bacaan
anak dibedakan dengan bacaan dewasa. Buku pegangan siswa di sekolah dibedakan
dengan buku pegangan guru. Buku koleksi referens dibedakan dengan koleksi
sirkulasi (berdasar kegunaannya).
3. Klasifikasi fundamental
Pengelompokan
bahan pustaka berdasarkan ciri subyek atau isi pokok persoalan yang dibahas
dalam suatu buku. Pengelompokan bahan pustaka berdasarkan sistem ini mempunyai
beberapa keuntungan, diantaranya:
a. Bahan pustaka yang subyeknya sama atau hampir sama,
letaknya berdekatan.
b. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
menilai koleksi yang dimiliki dengan melihat subyek mana yang lemah dan mana
yang kuat.
c. Memudahkan pemakai dalam menelusur informasi
menurut subyeknya.
d. Memudahkan pembuatan bibliografi menurut pokok
masalah.
e. Untuk membantu penyiangan atau weeding koleksi.
Klasifikasi
fundamental banyak digunakan oleh perpustakaan besar maupun kecil. Dalam sistem
tersebut buku dikelompokan berdasarkan subyek, sehingga memudahkan pemakai dalam
menelusur suatu informasi. Klasifikasi Fudenmental terdiri dari :
1. Klasifikaasi DDC (Dewey Decimal Classification).
DDC merupakan sistem klasifikasi yang populer
dan paling banyak pemakainya. Klasifikasi ini dalam pengembangannya menggunakan
sistem desimal dengan angka arab sebagai simbol notasinya.
2. Klasifikasi UDC (Universal Decimal Classification).
UDC sebenarnya
merupakan perluasan dari klasifikasi DDC. Pertama kali diterbitkan pada 1905
dengan nama Classification Decimal yang dikembangkan oleh FID (Federation
International Documentation). UDC pembentukan notasinya menggunakan satu angka
atau lebih. Klasifikasi ini mempunyai tabel tambahan yang berfungsi untuk
menyatakan adanya hubungan antar subyek satu dengan lainnya atau dengan aspek-aspek
tertentu yang ada dalam pokok persoalan. Simbol + pada UDC berfungsi untuk
menggabungkan dua subyek.
Misal pertanian dan ekonomi adalah 63 + 33
Misal pertanian dan ekonomi adalah 63 + 33
3. Klasifikasi LCC (Library of Congress Classification)
Klasifikasi ini mulai dikembangkan
pada 1899 dan diterbitkan pertama kali pada 1901. Klasifikasi ini disusun
dengan menggunakan huruf dan angka sebagai simbol atas dasar urutan abjad. Dalam kegiatan klasifikasi fundamental, seseorang akan
mengelompokkan koleksi berdasarkan subjek bahan pustaka. Dalam kegiatan
klasifikasi ini ada dua tahapan yang dilakukan yaitu analisis subjek serta
penentuan notasi atau nomor klas subjek. Berikut ini penjelasan dari
masing-masing tahapan.
KESIMPULAN
Pengertian pengklasifikasian buku
dapat disimpulkan sebagai pengelompokkan buku berdasarkan jenis atau ciri-ciri
buku tersebut sehingga dapat di bedakan satu dengan yang lainnya.klasifikasi juga sangat bermanfaat dan membantu kita pada kehidupan sehari-hari. Jadi klasifikasi tidak hanya untuk di buku saja melainkan semua benda atau hal lainnya yang bisa kita kelompokan bedasarkan jenis dan kegunaannya.
SARAN
Melihat perkembangan tekhnologi saat ini yang semakin canggih, maka, perpustakaan harus mengikuti perkembangan
tekhnologi, baik bentuk fisikny, maupun dari segi pelayananya.
Karna
adanya berbagai macam skema klasifikasi, maka perlu adanya penguasaan skema klasifikasi,
mulai dari DDC, UDC, LCC, CC, dll. Perbedaan skema klasifikasi DDC dengan UDC
terletak pada penggunaan symbol yang digunakan oleh UDC, sedankan LCC
menggunakan huruf dalam sebuah perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
·
Priotomo
agus wahyu. 2013.Materi perpustakaan-Artikel Tentang Klasifikasi. diakses
pada tanggal 9 Februari 2017.
http://aguswahyupriutomo.blogspot.co.id/2015/07/artikel-tentang-klasifikasi-ddc-udc-dan.html
·
Syam
Amsya. 2014. Amsya Amir Syam–Makalah Klasifikasi
Perpustakaan. diakses pada tanggal 9 Februari 2017.
http://amsya811.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-klasifikasi.html
·
Helsa.
2014. Pengelolaan Perpustakaan-Klasifikasi. diakses pada tanggal 9
Februari 2017. http://pp.ktp.fip.unp.ac.id/?p=34
·
Edisman.
2009. Sudisman–Sejarh DDC. diakses pada tanggal 10 Febrari 2017.
http://sadisman-edisman.blogspot.co.id/2009/06/sejarah-ddc_9148.html
·
Widodo. 2009. Widodo H. Wijoyo–Sistem
Klasifikasi LCC. Diakses pada 10 Februari 2017. http://widodo.staff.uns.ac.id/2009/04/15/modul-5-sistem-klasifikasi-ddc/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar